Cerita Pendek : Satu Mata Malaikat
![]() |
| Foto oleh Zuch Lucero dari Unsplash via www.unsplash.com |
Mengapa? Setiap manusia ketika mendengar kata Ibu banyak yang mengaitkan dengan kisah-kasih yang penuh akan kenangan manis. Namun sejenak aku berpikir bahwa kisah-kasih itu hanyalah isapan jempol saja. Dan pada kenyataannya, dialah yang membuatku jadi malu di hadapan teman-temanku. Aku benci Ibuku.
Dia adalah manusia yang hanya memiliki satu mata, aku tak tahu mengapa kondisinya seperti itu. Meski hanya memiliki satu mata, ia tetap saja bersikeras membantuku walau aku sering menolaknya. Dia hanyalah orang tua yang sudah kehabisan tenaga untuk membantuku. Dan yang pasti akan menjadi beban dalam hidupku.
Arah jarum jam nenunjukan pukul dua puluh malam, dikala itu langit hita yang ditemani gugusan beribu bintang mulai menampakan dirinya kembali. Kulihat ke dalam, ibu telah tertidur. Dan kini hanyalah rasa kesepian yang sanggup menemaniku. Kemudian aku mencoba untuk memberanikan diri dengan mengadahkan tanganku seraya berdo'a.
Ya Tuhan, tolong hilangkanla beban hidup yang ada pada diriku ini. Aku berharap aku bisa sukses dengan hilangnya beban-beban itu.
Keesokan harinya, aku bersekolah seperti biasa. Namun pandanganku tiba-tiba teralihkan setelah seseorang datang untuk melihatku. Lalu ia melemparkan senyum dan lambaian tangan kepadaku. Aku malu. Aku malu melihatnya dengan satu mata yang tertutup ditambah kain yang berwarna hitam. Dengan secepat kilat, aku berlari menjauhi dirinya.
"Hahaha, itu Ibu kamu Andri? Kok mata nya ditutup sebelah? Mau jadi bajak laut ya?" Ucap salah seorang teman yang seringkali mengejekku. Dan pada akhirnya aku diejek oleh semua teman-teman tentang hal ini.
Aku sudah tak tahan dengan keadaan yang seperti ini. Aku nekat dengan berkata di hadapan Ibuu, "Bu, tolonglah mengilang dari dunia ini. Aku malu melihat Ibu yang seperti ini. Ibu hanya akan menjadi bahan tertawaan teman-temanku. Semua ini karena Ibu! Dan mengapa Ibu tidak sekalian mati saja?" Ibuku diam membisu setelah mendengar ucapanku ini. Aku tidak berpikir bahwa aku telah melukai hatinya.
Kulihat genangan air mata telah memenuhi kelopak mata Ibuku, menahan tangis yang memaksa ingin jatuh. Tapi aku sama sekali tidak peduli. Ia hanyalah beban yang disediakan Tuhan untukku.
Pada malam hari, aku menyusun rencana untuk kabur dari rumah. Aku telah menyiapkannya dengan segala resiko dan telah dipikirkan secara matang. Aku mengatakan diri bahwa aku menjadi seorang yang sukses dengan cara membenci wanita yang bermata satu itu. Aku pun kabur dari rumah.
6 Tahun berlalu
Kini aku menjadi seorang pria yang sukses, dengan memiliki mobil yang harganya bermiliar-miliar, rumah pribadi yang bertingkat dua, dan dilengkapi dengan istri idaman yang cantik jelita. Bertanya-tanya tentang bagaimana caranya aku sukses? Tentunya dari do'a yang sebelumnya kupanjatkan ke Tuhan, lalu aku bekerja serta berusaha semaksimal mungkin. Dan yang terakhir, meninggalkan orang itu sendirian.
Aku menjadi sukses karena membenci lalu meninggalkan wanita yang bertama satu itu. Aku sangat menyukai hidup ini karena aku tidak usah berpikir tentang kehidupannya.
Tok...Tok...Tok...
"Assalamu'alaikum.." Teriak seseorang dari luar.
Aku tak tahu itu siapa, mungkin pengamen jalanan. Kemudian hatiku kaget setengah mati setelah melihat di balik jendela rumah. Itu adalah Ibuku! Ia kembali dengan penampilannya yang kusut, dan masih dengan sebelah mata yang tertutup kain itu.
"Assalamu'alaikum..." Teriak nya lagi.
Lalu aku membukakan pintu, dan berusaha mengusir wanita itu, "Maaf ga ada uang." Akan tetapi wanita yang bermata satu itu tak kunjung pergi, "Saya bilang, saya gak punya uang! Bisa denger gak sih? Cepat pergi dari sini!" Emosiku mulai memuncak.
"Oh iya maafkan saya Tuan. Saya akan pergi dari sini secepatnya." Jawab wanita itu, selanjutnya dia melangkah menjauhi kami. Aku merasa lega, dia tidak mengetahui anaknya. Memang wanita yang bodoh! dan yang bodoh itu berhak untuk ditindas oleh yang berkuasa.
"Itu siapa sayang?" Kata Istriku.
"Bukan siapa-siapa. Cuma pengamen jalanan."
Betapa enaknya hidup sukses, hidup dipenuhi dengan limpahan uang. Segala yang diinginkan bisa dibeli dengan uang. Tak ada yang tak bisa dibeli dengan uang. Uang adalah segalanya. Segalanya adalah uang.
Akan tetapi lama-kelamaan, aku mulai bosan hidup dengan uang. Aku telah membeli semuanya dengan uang, aku ingin menghibur diri, tapi bukan dengan uang. "Bagaimana kalau aku pulang ke rumah yang dulu?" Dalam benak pikiranku tercetak jelas kata-kata itu. Dengan rasa penasaran, aku menaiki mobil untuk pergi ke rumahku yang dulu.
"Ah, rumah penuh sejarah, nostalgia yang mengharukan." Ucapku setelah bertahun-tahun tidak mengunjungi rumah yang sekarang sudah terlihat reyot. Aku masuk ke dalam rumah itu, dan menemukan ibuku yang terjatuh di lantai dengan dipenuhi darah merah. Aku tidak perduli, aku tidak akan menangisinya. Kulihat ada secarik kertas di tangannya. Aku penasaran dan mencoba untuk membacanya.
Anakku tersayang, Andri Gunawan
Usiaku telah mencapai batasnya. Aku tahu, mungkin kamu menganggapku sebagai ibu yang memalukan, ibu yang gagal mengurus anaknya, ibu yan tidak sayang kepada anaknya. Jika kamu berpendapat seperti itu, kamu salah wahai anakku.
Di mana pun kamu berada sekarang. Aku selalu menyayangimu, aku selalu melihatmu, dan aku selalu merindukanmu setiap waktu. Aku bersyukur kamu bisa menjadi pria yang tangguh dan sukses. Aku bersyukur kamu telah mendapatkan Istri yang cantik.
Kamu tahu, sewaktu kamu kecil dulu. Kamu ditimpa kecelakaan bersama Ayahmu. Ayahmu meninggal karena melindungi kamu. Saat itu, kamu kehilangan sebelah matamu. Aku tak ingin kamu tumbuh dengan satu mata saja. Maka dari itu, aku mendonorkan mataku kepadamu. Agar kamu bisa tumbuh bahagia dengan kedua mata yang lengkap.
Aku tidak akan pernah marah kepadamu, meskipun kamu marah kepadaku aku menganggapnya itu sebagai kasih sayang. tanpamu hai ini akan terasa hampa. kamu adalah segalanya bagiku.
Tumbuhlah dengan sehat, wahai permata hatiku.
Aku hanya bisa menatap kertas itu dengan wajah yang terkelu. Tetesan air mata mulai membasahai pipiku, aku menyesal dengan perbuatanku. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa diulang kembali. Tidak ada yang bisa diperbaiki kembali.

Semua orang akan mati kecuali karyanya.. luar biasa!
BalasHapusTerima kasih sudah membaca.
Hapus